Piagam
Gumi Sasak: Menjaga Serta Memelihara Adat dan Budaya Sasak
Gumi Sasak merupakan sebuah
tempat bagi orang-orang Sasak menggantungkan harapan dan kehidupannya dengan melakukan
serangkaian proses kehidupan dari generasi ke generasi dan melahirkan
bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi mudanya. Kesuburan
tanahnya mampu menopang kehidupan orang-orang Sasak karenasumber air yang
mengalir dari gunung Rinjani secara terus-menerus, sehingga menjadi berkah
tersendiri bagi orang-orang Sasak. Dari beberapa catatan dan informasi,
asal-usul suku Sasak yang mendiami pulau Lombok adalah ras Mongoloid di
AsiaTenggara.
Di gumi Sasak, ada yang dikenal
dengan istilah Rowot. Rowot adalah
penanda alam yang menunjukkan kesadaran bagi masyarakat. Pada dasarnya, Rowot adalah
sebuah sistem pengetahuan yang menjadi pedoman laku hubungan masyarakat di
Sasak. Munculnya rowot menyiapkan orang-orang Sasak untuk memulai sesuatu
dengan cara yang berbeda, karena segala sesuatu harus dilakukan sesuai dengan
waktunya. Waktu inilah yang menetukan suatu pekerjaan berhasil atau tidak.
Rowot adalah kesadaran waktu bagi masyarakat Sasak. Secara lebih mendalam, Rowot
adalah kemutakhiran yang merupakan khazanah intelektual bangsa Sasak yang
diwariskan berabad-abad dan merupakan hasil dari sikap awas dari para leluhur Sasak
dalam membaca tanda-tanda alam, mencatat dan merumuskan ke dalam formulasi yang
bisa diturunkan dalam bentuk pengetahuan. Kemudian, diekspresikan dalam
berbagai simbol, ritual yang berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan, mulai
dari dalam rumah sampai pada jagat raya ini. Rowot adalah sebuah rumusan
bintang atau rasi bintang. Dalam bahasa internasional atau kajian
astronomi, rowot adalah sebuah rumusan
bintang pleyades. Dalam beberapa budaya yang dicatat, seperti Yunani Kuno dan Jepang, menyebut rowot sebagai sebaruk.
Piagam Gumi Sasak
Piagam gumi sasak merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memperbaiki dan melindungi budaya bangsa sasak yang telah
banyak melenceng dari budaya aslinya. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Bapak Murahim S.Pd.,
M. Pd., Piagam gumi sasak ini dilatar
belakangi karena arah kebudayaan yang tidak jelas dan sejarah yang diobrak abrik oleh kepentingan penguasa.
Piagam gumi sasak yang dibacakan pertama kali pada tanggal 26
Desember 2015 ini diadakan untuk memperbaiki budaya yang sudah melenceng.
Bagaimana budaya bangsa sasak kembali baik seperti semula. Nyongkolan kembali
seperti nyongkolan yang aslinya, sorong serah dalam adat pernikahan suku
sasak kembali digunakan dan masih banyak budaya yang harus terus dilestarikan. Oleh karena itu, sebagai bangsa sasak, anak muda suku sasak harus berupaya melestarikan budaya
sasak sebagaimana budaya aslinya dan tidak mencoreng budaya-budaya sasak yang
sakral. Dengan menggandeng tokoh-tokoh budaya, tokoh adat, tokoh agama, dan
lainnya diharapkan sejarah dan budaya sasak dapat kembali baik dan menjadi
kokoh sehingga tidak dapat diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa. Menjaga
budaya sasak adalah amanah bagi bangsa sasak, karena budaya suatu bangsa tergantung dari bagaimana orang-orangnya menjaga dan
melestarikan budaya bangsanya.
Isi Piagam Gumi Sasak
PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi bangsa Sasak adalah
amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi
mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah
kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak
yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang
terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.Perjalanan
sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai
bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya
Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri,
sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih
berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang
ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern.
Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak
di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya
sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami
anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan
menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara,
menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara
kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya
Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan
harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa
bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai
religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra
sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi
tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu
tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju
kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H
26 Desember 2015
Ditanda
tangani bersama kami,
1.
Drs. Lalu Azhar
2.
Drs. H. Lalu Mujtahid
3.
Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
4.
TGH. Ahyar Abduh
5.
Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph.D.
6.
Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7.
Dr. H. Jamaluddin M.Ag
8.
Dr. Lalu Abdul Khaliq M.Hum
9.
Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc.,
11. Dr. H.
Lalu Agus Faturrahman
12. Mundzirin
S.H
13. Lalu Ari
Irawan, SE., S.Pd., M.Pd.
