Nyongkolan:
Tradisi Saling Menghormati
Berdasarkan
informasi yang saya dapatkan dari dua narasaumber, yaitu Ibu Sinarah dan Bapak
Sahrum, nyongkolan merupakan suatu kegiatan adat masyarakat sasak atau Lombok
yang sangat sakral dan tidak boleh dimain-mainkan. Acara nyongkolan ini
dilaksanakan sebagai penghormatan terhadap mempelai pengantin perempuan supaya
keluarganya dapat melihat dan mengetahui bahwa keluarga atau mempelai pengantin
laki-laki sangat menghargai, menjaga, dan menghormati anaknya (mempelai
pengantin wanita). Nyongkolan dilakukan setelah melaksanakan acara-acara yang lain,
seperti acara nanggep atau rowah (dalam bahasa sasak), sorong serah, dan
lain-lain. Kegiatan nyongkolan ini dilaksanakan dengan maksud supaya masyarakat
mengetahui bahwa kedua mempelai telah sah dan benar-benar sudah menjadi
pasangan pengantin. Selain itu, nyongkolan ini dilaksanakan agar kedua mempelai
lebih dikenal terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai
perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan
di pihak mempelai laki-laki, dan untuk menyambung tali silaturrahmi antara
keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai perempuan. Acara nyongkolan
ini biasanya dilakukan pada sore hari.
Sebelum
acara nyongkolan dilaksanakan, terlebih dahulu pihak keluarga pengantin
laki-laki menanyakan kapan kesiapan pihak keluarga pengantin perempuan untuk
menerima adat nyongkolan yang akan dilaksanakan. Dan sebaliknya, pihak keluarga
pengantin perempuan juga bertanya kapan akan dilangsungkan adat nyongkolan,
supaya pihak pengantin perempuan dapat mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan, seperti tempat penyambutan (janur, dan hiasan-hiasan dinding),
orang-orang yang menyambut, makanan, dan lain-lain.
Pada
saat kegiatan nyongkolan dilaksanakan, pihak keluarga mempelai laki-laki tidak
hanya dating dengan ahli waris saja, akan tetapi ada sederetan tokoh
masyarakat, kepala lingkungan, warga yang mengiring, pembayun, dan tentunya ada
musik pengiring, seperti gendang beleq, kecimol, rudat, maupun rebana. Selain
itu, pihak dari mempelai laki-laki membawa alat atau benda dan makanan pada
saat nyongkolan dilaksanakan. Sebelum berangkat nyongkolan, terlebih dahulu
pengantin laki-laki dan perempuan dipayas atau dirias seperti layaknya sang
ratu dan pangeran. Kedua pengantin tersebut memakai pakaian adat sasak. Untuk
pengantin laki-laki memakai Capuq/Sapuk ( batik, palung , songket), Baju Pegon
(warna gelap), Keris. Sedangkan untuk pengantin perempuan memakai pangkak, baju
lambung, sarung (kain songket), dan aksesoris.
Dalam
pelaksanaan nyongkolan tersebut, yang memimpin adalah pembayun, agar dapat
menjaga ketertiban terutama pada saat di jalan sampai tiba di rumah atau
kediaman pengantin perempuan. Dalam rombongan nyongkolan tersebut, yang berada
paling depan adalah kelompok pembuka jebak (gerbang), kemudian dibelakngnya
pembayun, kelompok panji, selanjutnya pengantin perempuan yang diikuti oleh
pengiring perempuan, dibelakangnya pengantin laki-laki yang didiringi oleh
pengiring laki-laki. Dan yang paling belakang adalah kelompok pengiring musik,
baik gendang beleq, kecimol, rudat, maupun rebana. Sebelum sampai di rumah
keluarga pengantin perempuan, terlebih dahulu rombongan pihak pengantin
laki-laki akan disambut oleh rombongan muda-mudi dari pihak keluarga pengantin
perempuan, kemudian bersama-sama menuju rumah pengantin perempuan. Akan tetapi,
rombongan iring-iringan belum diperbolehkan untuk ikut masuk ke rumah pengantin
perempuan, karena belum dilaksanakannya komunikasi antar pembayun pengantin
laki-laki dan pembayun pengantin perempuan dengan menggunakan bahasa sasak yang
halus. Setelah komunikasi itu selesai dilaksanakan dan pembayun dari pengantin
perempuan itu mempersilahkan masuk, barulah rombongan irng-iringan dan
penyongkol dari pengantin laki-laki diperbolehkan masuk ke rumah pengantin
perempuan. Sesampai dikediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin
akan melakukan sungkeman dan bersalaman untuk meminta do’a restu kepada pihak
keluarga pengantin perempuan sebagai
tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui untuk melepas anak gadis mereka dan
dibawa oleh suaminya. Selain itu, ada juga acara foto-fotoan dan sepasang
pengantin dipersilahkan duduk bersanding di tempat yang telah dihias dengan
berbagai hiasan, salah satunya ada janur. Setelah berbagai acara yang dilakukan
di rumah pengantin perempuan, sepasang pengantin dan rombongan dari pihak pengantin
laki-laki pulang dan kembali ke rumah masing-masing. Dengan demikian, acara
nyongkolanpun selesai dilaksanakan.
Baguus
BalasHapusLuar biasa!!
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusTerbaik dari segala yg terbaik, bermanfaat bagi pembaca
BalasHapusBagus buanget
BalasHapusBagus buanget
BalasHapusTerimakasih postingannya.
BalasHapusBermanfaat
Sangat bermanfaat
BalasHapusMantap ukhti...
BalasHapus(koment balek inges heheh)
Ini seperti mahakarya
BalasHapusshohibul blog kapan?
BalasHapusLuar biasa memang
BalasHapusdari nyongkolan pun kita bisa saling menghormati keluarga satu dengan keluarga yang lain
BalasHapusSuperr ibu Aisyah, tingkatkan
BalasHapus#salam budaya
Suka sekali bacanya,sangat bermanfaat
BalasHapusSuka sekali bacanya,sangat bermanfaat
BalasHapus